Zionis yang Kelaparan

Sang Zionis

kembali tumpahkan darah

pada negeri yang sudah lelah

dari peperangan berkepanjangan

 

Jalur Gaza

sasaran penghancuran

ratusan bom ditumpahkan

tumpahkan darah-darah yang tak berdaya

lengkingkan jeritan dan ratapan

 

Inilah manusia-manusia terkutuk

yang dibiarkan hidup sejak zaman Nabi Musa

dibiarkan merajalela

unjuk kekuatan

unjuk kekuasaan

 

Suatu saat

nanti, kelak

darah mereka akan ditumpahkan

tak ada tempat sembunyi

sampai-sampai batu pun ikut bernyanyi….

20121120

Balisah

mata kalat maliyat nang balu

asa basigar taliyat si bujang

hati nang babunga jadi pusang

maliyat ASKS IX pacang bagalu

 

panjang sadapa barapa kilan

handak maukur panjang kayu palawan

ka mana buhan sampiyan wahai sastrawan

kadada burinik ASKS ka sambilan

Mimpi Orang Kecil

Rakyat kecil tertidur beralas kardus
bermimpi tentang sebuah rumah mungil
yang tak kunjung terwujud
terlelap dalam selimut dingin
cubitan nyamuk-nyamuk lapar
tetap terlena

Yang katanya wakil rakyat
yang katanya manusia-manusia terhormat
tertidur nyenyak dalam kasur empuk
bermimpi tentang gedung megah
setara dengan selaksa rumah
kala terbangun, mereka sumringah
sebab mimpi mereka adalah angan-angan yang nyata

Tuan, kenapa mimpi kami hanyalah maya?
sedangkan mimpi tuan menjadi nyata
padahal kami dan tuan apanya beda
kami menghiba, tuan meminta

Tuan, mulut kita sama
tapi kenapa jawab raja kita berbeda
kami menghiba dianggap hina
Tuan meminta dianggap mulia

Tuan, kami dapat bermimpi
Tuan juga bermimpi
walau mimpi kita sama
namun berbeda ketika terjaga

Mimpi Tuan menjadi nyata
mimpi kami angan semata

Banjarbaru, 14 Mei 2011.

Pemilukada

Tanggal 2 Juni 2010 kaina di Kalimantan Salatan akan diada akan pemilukada gasan pamilihan abah hubnur lawan bupati di babarapa kabupatin.
Manurut barita, pemilukada kaina dinilai kondusif, tagal ada jua babarapa dairah nang dinilai rawan konflik.
Nah, Anang Ajit, wartawan matan harian Banua Hanyar mawawancar’i Su Idup, salah saikung tukuh nang cukup bapangaruh di Banjarmasin.
Anang Ajit : Manurut sampian, kaya apa pemilukada tanggal 2 Juni kaina, aman-aman hajalah?
Su idup : Manurut unda Insya Allah aman-aman haja
Anang Ajit : Napa alasan pian?
Su Idup :Masarakat Kalsil hudah bapangalaman sakali marasai pamilihan kapala dairah langsung ni, yatu tahun 2005 nang liwat
Anang Ajit : Pas tarjadi kisruh pang? Kisruh haja pang, mudahan jangan karusuhan kaya tahun 1997 dahulu.
Su Idup : Mudahan jangan. Amun kisruh, baarti pemilukada jadi tabalik artinya
Anang Ajit : Napa, Su?
Si udp : Pemilukada jadi Kadapemilu!
Anang Ajit : Hahaha…!

BAB IV RIWAYAT BERDIRINYA ALIRAN–ALIRAN SILAT DI TANJUNGNAGARA

BAB IV
RIWAYAT BERDIRINYA
ALIRAN–ALIRAN SILAT DI TANJUNGNAGARA
PADA pertengahan abad ke-7 M, di wilayah Kerajaan Kutai didirikan sebuah kuil yang bernama Kuwil Padma yang merupakan kuil agama Hindu. Di kemudian hari, kuil ini akhirnya menjadi kuil agama Hindu terbesar di Tanjungnagara. Kuil tersebut didirikan oleh seorang pendeta Hindu dari Jambudipa yang bernama Resi Yamuna Dwipayana.
Selain mengajarkan dan menyebarkan agama Hindu, kuil ini pun mengajarkan ilmu beladiri atau silat kepada murid-muridnya (para resi) dengan tujuan untuk menjaga kesehatan, menjaga diri maupun membela kaum yang lemah.
Pada masa itu hukum “rimba” memang masih berlaku walaupun kerajaan sudah memiliki peraturan ketatanegaraan. Namun karena sifat masyarakatnya yang masih memiliki “naluri primitif”, dimana setiap permasalahan lebih banyak diselesaikan dengan kekerasan sehingga berlaku ketentuan, siapa yang kuat dialah yang benar! Akibatnya banyak masyarakat yang belajar ilmu silat untuk menjaga diri, harta dan keluarganya. Namun dampak lainnya adalah banyaknya kemampuan beladiri itu yang disalahgunakan untuk melakukan kejahatan.
Maka untuk melindungi masyarakat itulah, Kuwil Padma mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya, baik yang dididik sebagai resi atau pertapa maupun sebagai seorang pendekar.
Pada masa kepemimpinan Resi Wiratadharma, datanglah Balian Sungkanai, seorang tokoh suku Dayak di Tanjungnagara untuk belajar agama Hindu di Kuwil Padma. Usia Balian Sungkanai pada waktu itu sekitar 40 tahun. Setelah belajar hampir 20 tahun, Balian Sungkanai kembali ke daerahnya dan mendirikan Kuwil Lewo Telu.
Kuwil Lewo Telu, selain sebagai pusat tradisi kepercayaan Kaharingan di Tanjungnagara, juga mengajarkan ilmu silat murni dari Tanjungnagara, walaupun sebagian mendapat pembaharuan di sana-sini, namun sifat khasnya, yaitu kekerasan dan kelugasan tanpa adanya seni keindahan masih banyak terlihat. Dalam permainan senjata, maka Kuwil Lewo Telu dikenal dengan ilmu mandaunya. Ilmu Mandau Kuwil Lewo Telu diakui orang sebagai ilmu mandau paling hebat di Tanjungnagara, baik karena kecepatannya maupun keganasannya.
Selain itu, kuil ini pun dikenal memiliki ilmu-ilmu yang berbau gaib. Salah satu ilmu mandau Kuwil Lewo Telu yang amat ditakuti orang adalah Kaji Mandau Silip Parang Maya (Ilmu Mandau Gaib Golok Semu). Konon bila orang yang menguasai ilmu ini melancarkan serangannya, lawan jarang sekali mampu mengantisipasi serangannya, sehingga tahu-tahu roboh dengan dada berjalur biru tanpa ada luka.
Pada akhir abad ke–7 M, datanglah dua orang guru besar agama Budha dari Jambudipa ke Nusantara, yaitu Biksu Dharmapala dan Biksu Dharmadhara. Biksu Dharmapala menetap di Kerajaan Sriwijaya dan dengan bantuan Raja Sriwijaya, dia mendirikan pusat agama Budha di sana.
Sedangkan Biksu Dharmadhara menyeberang ke Tanjungnagara. Pada mulanya dia menetap di Kerajaan Kutai, namun karena perkembangan agama Hindu di sana demikian pesat, dia akhirnya pergi ke selatan, ke Kerajaan Tanjung Pura yang merupakan sebuah kerajaan yang beragama Budha. Dengan bantuan Raja Tanjung Pura, dia mendirikan Bihara Bakula.
Dalam waktu relatif singkat, Bihara Bakula tumbuh menjadi pusat agama Budha di Tanjungnagara seperti halnya Kutai yang menjadi pusat agama Hindu di Tanjungnagara atau Sriwijaya yang menjadi pusat agama Budha di Suwarnadipa.
Pada masa kepemimpinan Biksu Dharmajana (749–775 M), terdapat dua orang tokoh dari Bihara Bakula yang telah mengasingkan diri dan menyepi di tempat lain, yaitu Biksu Singgang dan Biksu Giting. Pada masa mudanya kedua biksu itu dikenal sebagai biksu yang tidak mau terikat dengan peraturan Bihara Bakula sehingga memilih keluar dari biara.
Mereka mengembara di dunia persilatan dengan membawa perangai masing-masing yang sebenarnya tidak sesuai bagi seorang biksu. Akan tetapi karena sepak terjang mereka di dunia persilatan tidak menyalahi jalan kebenaran, pihak Bihara Bakula tidak ambil peduli lagi dengan perbuatan mereka, apalagi ilmu kedua biksu itu sangat tinggi, yang hanya mampu ditandingi oleh tokoh-tokoh teras Bihara Bakula, semakin membuat mereka disegani Bihara Bakula.
Kedua tokoh itu mendidik masing-masing seorang murid dari kalangan masyarakat biasa untuk diajari ilmu silat. Biksu Singgang bermurid Manta Bakalang (753–825 M) dan Biksu Giting bermurid Panggar Kalang (759–845 M).
Manta Bakalang berhasil mempelajari Pukulan Puncak Himalaya yang bersifat dingin dan Pukulan Setitik Neraka yang bersifat panas. Setelah memperoleh banyak pengalaman di dunia persilatan, dari kedua ilmu yang dikuasainya itu, dia menciptakan Ilmu Tenaga Dalam Enggang–Naga dan Jurus Tangan Kosong Enggang–Naga.
Setelah merasa cukup lama berkecimpung di dunia persilatan, Busu Manta Bakalang mendirikan Kindaikaji Anggang–Naga di Gunung Banyutawar yang terletak di kawasan Pegunungan Maratus di Tanjungnagara. Selama masa kepemimpinannya, dia lebih banyak menyepi untuk menciptakan ilmu-ilmu baru sehingga urusan perguruan lebih banyak ditangani oleh wakilnya yang bernama Busu Madang Alai. Hanya sewaktu-waktu dia keluar dari tempat penyepiannya untuk melihat keadaan perguruannya.
Sementara itu, Panggar Kalang yang lebih belakangan selesai menuntut ilmu dari gurunya, berhasil menguasai Ilmu Tenaga Dalam Penakluk Iblis dan Jurus Mandau Gerbang Nirwana. Dalam waktu singkat, Panggar Kalang menjadi salah seorang jago nomor satu di wilayah barat Tanjungnagara. Ketika mendengar bahwa Manta Bakalang yang masih terhitung kakak seperguruannya telah mendirikan sebuah perguruan di wilayah timur, dia pun akhirnya mendirikan sebuah perguruan di Gunung Niut, wilayah Tanjungnagara bagian barat. Perguruannya itu diberi nama Kindaikaji Talabang.
Murid-murid Kindaikaji Talabang diajarkan ilmu ciptaan Busu Panggar Kalang, yaitu Ilmu Tenaga Dalam Panggar Kalang dan Jurus Mandau Talabang yang merupakan sempalan dari Ilmu Tenaga Dalam Penakluk Iblis dan Jurus Mandau Gerbang Nirwana.
Pada masa kepemimpinan Biksu Gurudharma (868–901 M), Bihara Bakula pernah berhutang budi pada seorang pendekar dari Kerajaan Kutai bernama Busu Bantang. Karena merasa berhutang budi itulah, Biksu Guru-dharma tidak mampu menolak ketika Busu Bantang bermaksud mengambil Kitab Matahari. Menurut asal usulnya, Busu Bantang memang masih ada hak terhadap Kitab Matahari karena kitab itu konon adalah milik kakek-buyutnya. Namun dalam suatu peristiwa yang tidak jelas, kitab tersebut berada di Bihara Bakula.
Biksu Gurudharma mengajukan jalan keluarnya, yaitu dengan mengajarkan isi Kitab Matahari kepada putra Busu Bantang, yaitu Lanjang dan Mahakam Suta. Busu Bantang menerima usul itu karena dia beranggapan bahwa tanpa mendapat bimbingan orang pandai, belum tentu kedua puteranya dapat menguasai ilmu-ilmu yang terdapat di dalam Kitab Matahari. Kedua putranya diangkat sebagai murid Bihara Bakula dan diajarkan ilmu-ilmu yang terkandung dalam Kitab Matahari. Dengan bimbingan Biksu Palang Dharma, adik seperguruan Biksu Gurudharma, Lanjang dan Mahakam Suta mempelajari Kitab Matahari dengan sungguh-sungguh. Apalagi Biksu Palang Dharma juga benar-benar serius mengajar dan melatih mereka.
Biksu Palang Dharma merupakan seorang tokoh Bihara Bakula yang khusus mempelajari Kaji Pitung Walas Narka (Ilmu Tujuh Belas Neraka), salah satu ilmu yang jarang dipelajari oleh murid Bihara Bakula. Dengan ditunjuknya dia sebagai pembimbing Lanjang dan Mahakam Suta, maka secara tidak langsung biksu itu dapat membandingkan kelebihan dan kekurangan Kaji Pitung Walas Narka dengan ilmu-ilmu yang terdapat dalam Kitab Matahari yang sama-sama mengajarkan kekuatan tenaga panas.
Selama kurang lebih lima belas tahun, Mahakam Suta-lah yang mampu menguasai hampir seluruh isi Kitab Matahari. Dengan berbekal Ilmu-Ilmu Matahari, Mahakam Suta menjadi salah seorang pendekar paling tangguh di Tanjungnagara pada masanya. Atas anjuran kakaknya, Lanjang, dia mendirikan Kindaikaji Matanandau di Gunung Karakan, Tanjungnagara bagian timur.
Tersebutlah di Suwarnadipa terdapat sebuah perguruan besar yang bernama Perguruan Gunung Singgalang. Selama puluhan tahun perguruan ini mampu menjadi salah satu perguruan paling kuat di Suwarnadipa. Ketika akan terjadi pergantian ketua yang kesekian kalinya, terdapat dua calon kuat yang dianggap mampu menduduki kursi ketua Perguruan Gunung Singgalang, yaitu Sidabusu Alahan Rumbai atau Datuk Nan Panjuang dan Sidabusu Bungo Puti.
Melihat ambisi adik seperguruannya yang begitu kuat untuk menduduki kursi ketua, Sidabusu Alahan Rumbai akhirnya mengalah. Dia tidak ingin perguruan yang telah dirintis dan dipertahankan dengan susah payah oleh para pendahulunya agar tetap eksis di dunia persilatan Suwarnadipa hancur hanya gara-gara perebutan kursi ketua. Untuk mententeramkan dan mengobati kekecewaan hatinya, dia pergi dari perguruan dan menyeberang ke Tanjungnagara.
Belasan tahun dia berpetualang dan berkecimpung di jagat pandikar Tanjungnagara. Bersama beberapa tokoh kelas satu, namanya tersohor sebagai salah satu pendekar pembela kebenaran di Tanjungnagara. Ketika usianya sudah lebih setengah abad dan telah banyak memperoleh ilmu-ilmu baru, maka di Gunung Kalulong, wilayah Tanjungnagara bagian utara, dia mendirikan Kindaikaji Paramagiri.

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR
TUTUR JAGAT PANDIKAR TANJUNGNAGARA atau Cerita Dunia Persilatan Kalimantan, disusun sebagai acuan bagi penulis dalam mengarang cerita-cerita silat yang berlatar belakang tanah Kalimantan sehingga alur cerita nantinya tidak kelihatan simpang siur atau janggal karena adanya nama, tokoh, tempat atau kronologis cerita yang bertentangan antara karangan yang satu dengan yang lain dari penulis sendiri.
Buku ini diharapkan juga dapat menyamakan persepsi atau pandangan bagi pengarang cerita-cerita silat lain yang menjadikan tanah Kalimantan sebagai latar belakang cerita atau bagian cerita mereka terhadap nama-nama tokoh, tempat, waktu, aliran-aliran silat di Kalimantan dan sebagainya.
Dengan demikian, walaupun pengarangnya berbeda-beda, namun nama-nama sebagian tokoh, tempat, waktu dan aliran-aliran silat di Kalimantan secara garis besar dalam cerita tetap sama.

1 Maret 1993.
Penulis.